Ada Pelajaran Berharga di Peringatan Hari Santri Oleh: Dadan Saepudin

Setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai tanggal bersejarah bagi santri di Indonesia yaitu Hari Santri Nasional. Penulis kutip di wikipedia.org peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama.Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH. Hasjim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Hari ini, kita kembali memperingati Hari Santri Nasional dengan tema: Santri Sehat Indonesia Kuat. Pemerintah, pesantren, dan berbagai elemen masyarakat merayakan peringatan hari tersebut. Namun, pada situasi pandemik Covid-19, peringatan HSN tidak semeriah tahun-tahun kamarin. Beberapa instansi pun melaksanakan kegiatan upacara tidak seperti tahun yang lalu karena harus menerapkan protokol kesehatan.

Walau pun demikian, geliat semangat peringatan HSN tampak di media sosial, seperti ucapan selamat dari para tokoh atas nama organisasi maupun perseorangan. Selain itu, juga ada lomba pidato digital seperti di youtube, dan media lainnya. Hal itu menambah semangat masyarakat dalam menyambut hari santri nasional.

Ketika memperingati Hari Santri, saya teringat pembicaraan salah seorang tokoh ulama di Kabupaten Bandung Barat, beliau dalam sebuah acara seminar pernah berbicara pada tahun kira-kira 1960, ketika selepas shalat magrib obrolan bapak-bapak saat itu terkait dengan anaknya mau dimasukkan ke pesantren mana.

Betapa pesantren menjadi sebuah harapan besar bagi orang tua sebagai tempat pendidikan bagi anak-anaknya. Ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang tua pada saat itu, jika anaknya berada di pesantren. Tentu saja, semangat orang tua dulu menjadi pelajaran bagi orang tua saat ini terkait dengan peran penting pesantren bagi pendidikan anak-anaknya.

Sebagai alumni pesantren, di peringatan hari santri nasional, teringat pada para ulama dan para guru di pesantren yang telah mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam serta mentransformasikan keteladanan. Tanpa lelah mereka berjuang mendidik generasi bangsa Indonesia. Sebagai santri, kita perlu belajar kepada para ulama tentang kesalehannya dan ghirah Tafaqquh Fî Al-Dîn, (mendalami ilmu agama Islam).

Keberadaan santri, tentu sejalan dengan perkembangan pesantren di Indonesia, Pesantren dikenal sebagai lembaga dan sistem pendidikan Islam tertua di Indonesia yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jebolan pesantren telah berkiprah dalam berbagai bidang, hal ini menandakan bahwa para santri berupaya untuk turut serta membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Berangkat dari itu, maka pesantren memiliki peran penting dalam mendidik generasi bangsa. Sebagai orang yang pernah nyantri, banyak pelajaran yang penulis ambil hikmahnya ketika di pesantren dan terasa sampai saat ini.

Tafaqquh Fî Al-Dîn, di pesantren para santri diajarkan ilmu-ilmu keislaman secara berjenjang dengan ciri khasnya yaitu pengkajian kitab kuning. Mengutip pendapat Haedari (2004: 17 – 21) dari keahlian ini mereka dapat memperdalam ilmu yang berbasis pada kitab-kitab klasik melalui proses panjang dengan pola umum pembelajarannya antara lain dengan hafalan (tahfihz); hiwar atau musyawarah; mudzakaroh (bahtsul masail); fathul kutub (baca kitab); muqoronah (perbandingan); dan muhawarah atau muhadatsah (latihan bercakap/pidato).

Dengan demikian, terbangun semangat tanpa lelah para diri santri dalam menuntut ilmu serta mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan, para santri yang mondok menghabiskan waktu di pesantren, secara tidak langsung mereka belajar akhlakul karimah kepada para gurunya. Para ulama mengajarkan keteladanan. Penulis masih ingat, bagaimana guru mengajarkan tentang kedisiplinan dalam menghargai waktu, shalat berjamaah, semangat menggali ilmu, dan pendidikan karakter lainnya.

Mengutip pendapat Yusuf (2003: 178-191) tujuan pesantren didasari tafaqquh fiddin (memahami agama) ingin membentuk moralitas umat, terutama membentuk akhlak sebagai bagian dalam membangun karakter santri. Sedangkan karakter dalam ranah akhlakul-karimah yang terpokok adalah berakhlak kepada Allah SWT, berakhlak kepada sesama, dan berakhlak kepada lingkungan. (Yusuf, 2003: 178-191).

Kemandirian, di pesantren para santri diajarkan tentang pentingnya kemandirian. Dari mulai memenuhi kebutuhan diri seperti; mencuci pakaian sendiri dan makan/minum para santri diajarkan untuk memasak secara sendiri maupun secara berkelompok. Ada tradisi di lingkungan santri yang saat ini tetap diwarisi yaitu “ngaliwet”, masak nasi dengan direbus.

Kewirausahaan, para santri secara tidak langsung diajarkan tentang wirausaha di lingkungan pesantren. Ada santri yang terbiasa mengurus ternak gurunya, bertani, berdagang, bahkan ketika ada pembangunan di pesantren para santri dengan kesadaran diri membantu para pekerja. Secara tidak langsung, di pesantren ada pendidikan kewirausahaan sehingga para santri dapat berkarya secara ekonomi di tengah pengabdiannya berdakwah di masyarakat.

Sejatinya banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik ketika membicarakan eksistensi pondok pesantren. Semoga tulisan sederhana ini menjadi penguat khidmat seorang santri akan pentingnya peran para ulama dalam membangun sumber daya manusia di Indonesia.

Penulis, Praktisi Pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *