BULAN LATIHAN ITU BERNAMA RAMADAN. Oleh: Dadan Saepudin

Segala puji bagi Allah SWT, kita telah memasuki 10 hari terakhir Ramadan 1443 Hijriyah. Pada bulan ini, umat Islam diperintahkan untuk berpuasa selama sebulan lamanya sebagai mana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 183.

Umat Islam dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan tampak mengeliat. Hal itu dapat dilihat dari masjid dan musala yang penuh apalagi menjelang shalat isya dan tarawih. Begitupun suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar menghiasi suasana Ramadan 1443 Hijriyah. Selain itu, di kampung di mana penulis tinggal, suara lodong yang bermetamorposis juga terdengar di pagi hari yang dinyalakan oleh anak-anak.

Ramadan begitu disambut oleh segenap umat Islam, baik dalam unggahan status maupun di grup WhatAspp dan Facebook. Bahkan sebelum Ramadan pada pengajian di bulan Rajab dan di penghujung Sya’ban, umat Islam sering memanjatkan doa yang artinya, “Ya Allah, Berkahkanlah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, sampaikanlah kami pada bulan Ramadan, dan hasilkanlah maksud-maksud kami, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Pengasih.”

Kegembiraan kita dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan semoga menjadi manifestasi dari keimanan kita kepada Allah SWT, dengan keimanan kita menyambut Ramadan 1443 Hijriyah untuk menjalan ibadah di bulan tersebut. Semoga kita tergolong kepada sabda Baginda Nabi Muhammad SAW, “Siapa yang puasa Ramadan dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam Qadar dengan iman dan ihtisab, telah diampuni dosanya yang telah lalu.(HR. Bukhari Muslim).”

Kata Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramiḍa atau ar-ramaḍ, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. yang berarti panas yang menyengat. hal ini bermakna bahwa Ramadan merupakan bulan latihan bagi umat Islam dalan membakar hawa nafsu sehingga kita dapat melewati Ramadan dengan memetik pelajaran Ilahiyah untuk diimplementasikan pada bulan selanjutnya.

Ramadan menjadi bulan momentum bagi umat Islam untuk meraih berbagai latihan yang bersifat ruhaniah dan lahiriah. Selama sebulan lamanya, kita dilatih untuk menahan hawa nafsu dari makan,minum, dan yang membatalkan lainnya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Rasa lapar dan haus di bulan selain Ramadan, kita dapat bersegera untuk makan dan minum namun tidak halnya di bulan Ramadan.

Melalui puasa, kita dilatih untuk membangkitkan simpati dan empati terhadap sesama. Karena bagi sebagian masyarakat yang ekonominya lemah, rasa haus dan lapar selalu menemani dalam kesehariannya. Di sinilah kita dilatih untuk menumbuhkan kepedulian sosial.

Kepedulian ini sangat penting ditingkatkan apalagi di tengah ancaman gaya hidup hedonistik dan individualistik yang secara gradual mulai memasuki tatanan kehidupan bermasyarakat.

Selain menahan dari rasa haus dan lapar juga hal-hal yang membatalkan lainnya, puasa juga mengajarkan agar kita bukan sekadar menahan dari makan dan minum saja misalnya, namun kita dilatih untuk menjaga mulut dari pembicaraan yang tidak bermanfaat misalnya menceritakan aib orang lain,memaki, dan sebagainya. Menjaga pikiran dari hal-hal yang tak bermanfaat. Menjaga hati dari penyakit-penyakit hati seperti rasa sombong dan riya. Menjaga kaki dari langkah yang tak bermanfaat, dan sebagainya.

Terkait dengan itu, maka ketika menjalankan ibadah puasa, kita menyatukan antara lahiriah dan ruhaniah agar dalam menjalankan ibadah puasa tidak tergolong hanya mendapatkan lapar dan haus semata. Sebagaimana Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Keistimewaan Ramadan juga merupakan bulan di mana Al-Qur’an diturunkan yaitu pada 17 Ramadan wahyu pertama, Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Ramadan mengajarkan tentang pentingnya literasi ditingkatkan. Membaca menjadi gerbang bagi kemajuan sebuah bangsa. Literasi menjadi prasyarat penting bagi kemajuan kebudayaan dan peradaban.

Ramadan juga mengajarkan pentingnya kita selalu berdoa. Pada kaitan itu, ada ayat yang memiliki munasabah dengan ayat yang berhubungan dengan ibadah puasa yaitu Surat Al-Baqoroh ayat 186 artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaknya mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, supaya mereka mendapatkan jalan yang lurus.”

Pada sebuah hadits dijelaskan bahwa ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak, yaitu; imam atau pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sewaktu ia berbuka, serta dan doa dari orang yang teraniaya. Doanya itu dinaikkan Allah menembus awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, serta firman Allah kepadanya.’ ‘Demi kemulian-Ku, Aku akan menolongmu, walau di belakang nanti.’ (HR. Turmudzi).

Berdasarkan uraian di atas, sejatinya masih banyak pelajaran penting di bulan Ramadan ini, semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memetik pelajaran. Penulis akhiri dengan sebuah doa: “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai permaafan, karena itu maafkanlah kami. Aamiin.’’

Penulis, Pengajar di Pesantren An-Najah Warga Saluyu Kecamatan Gununghalu Kabupaten Bandung Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.