SHALAT TARAWIH KILAT. Oleh: Karsidi Diningrat

SHALAT TARAWIH KILAT
Oleh: Karsidi Diningrat

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila seseorang mengerjakan shalat dengan baik dan menyempurnakan rukuk serta sujudnya, niscaya shalat berkata: “Semoga Allah memelihara dirimu seperti engkau memelihara diriku”, lalu shalat itu dinaikkan (diterima). Dan apabila seseorang mengerjakan shalat dengan buruk serta tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, maka shalat berkata: “Semoga Allah menyia-nyiakan dirimu sebagaimana engkau menyia-nyiakan diriku”, lalu shalat itu digulung seperti pakaian yang lapuk digulung, kemudian shalat itu dipukulkan ke muka pelakunya.” (HR. ath-Thayalisi melalui Ubadah ibnush Shamit r.a.).

Hadits ini menerangkan tentang keutamaan ibadah shalat. Disebutkan bahwa shalat yang dikerjakan dengan baik dan mendoakan pelakunya dengan doa yang baik pula, sedangkan shalat yang dikerjakan dengan buruk, maka shalat itu akan mengutuk pelakunya, yang digambarkan oleh hadits ini bahwa shalatnya digulung seperti kain yang sudah lapuk, lalu dipukulkan kepada muka pelakunya. Atau dengan kata lain, shalat tersebut kelak akan menimbulkan mudarat kepada pelakunya karena ia menyia-nyiakannya. Hal inilah yang dimaksud oleh firman-Nya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-oŕang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. Al-Ma’uun: 4-5). Termasuk ke dalam pengertian melalaikan ialah mengerjakan shalat dengan cara yang buruk, yaitu tanpa menyempurnakan rukuk dan sujudnya.

Rasulullah Saw bersabda, “Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi.” (HR. An-Nasai dan Tirmidzi).

Barangsiapa tidak berkesempatan untuk mengikuti jejak langkah para _salaf_ dan amalannya, maka hendaklah kita berhati-hati dan tidak memandang enteng shalat taraweh ini, sebagaimana banyak dilakukan oleh orang-orang bodoh, yang telah mengabaikan sesuatu rukun yang wajib di dalam shalat itu seperti, meninggalkan _thuma’ninah_ pada _ruku_ ‘ dan _sujud_ , karena terlampau cepat, atau tidak memperhatikan bacaan _al-Fatihah_ menurut petunjuk yang harus dilakukan, karena ingin segera selesai. Maka jadilah ia _di_ _sisi_ _Allah_ _sebagai_ _orang_ _yang_ _tidak_ _shalat_ _dan_ _tidak_ _beroleh_ _pahalanya_ , dan bukan pula yang meninggalkan shalat hingga bisa mengaku alpa dan selamat dari kemegahan diri. Hal-hal seperti ini bisa terjadi lantaran tipu daya setan terhadap orang-orang yang beriman. Setan memasang perangkap bagi orang-orang yang beramal, sehingga amalannya batal dan tertolak, padahal ia mengerjakan amalan itu. Maka waspadalah kita terhadap hal-hal seperti ini, dan berjaga-jagalah dari tipu daya setan.

Setan adalah musuh abadi manusia yang tidak akan pernah berhenti berusaha menjerumuskannya ke kubangan keburukan. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar masing-masing kita selalu bersikap waspada.

Hal ini disebabkan setan dan balatentaranya yang memang telah berkomitmen untuk terus memperdaya manusia tak akan pernah jera menggodanya. Makhluk terkutuk ini senantiasa menyelami batin manusia laksana aliran darah di dalam tubuh. Sasarannya adalah menjadikan manusia ragu-ragu terhadap kebenaran, sebagaimana dalam Sabdanya, “Sesungguhnya setan itu merasuk (masuk) di dalam diri manusia seperti aliran darah dan saya khawatir jika ia sampai membisikan sesuatu yang buruk (atau dalam riwayat lain, “sesuatu”) ke dalam hati kalian.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Sesungguhnya setan itu seperti serigala bagi manusia. Ia adalah serigala bagi domba-domba yang selalu memangsa domba yang terpisah dari kelompoknya. Oleh karena itu, janganlah kalian sampai berpecah belah sebaliknya hendaknya selalu berjama’ah dan bersatu.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits yang lain tentang shalat disebutkan bahwa, “Yang pertama-tama diangkat dari umat ini ialah khusyu sehingga tidak terlihat seorangpun yang khusyu’. (HR. Ahmad).

Shalat tarawih yang sempurna, sama seperti shalat-shalat fardhu lainnya. Yakni, harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya dalam hal berdiri, bacaan, _ruku_ ‘ dan _sujudnya_ , _khusyu_ ‘ dan _khudhu’nya_ , juga dalam semua rukun dan tertib yang lain. Jangan membiarkan setan menguasai diri kita, karena tidak ada kuasa pada setan atas orang-orang yang benar-benar beriman, dan orang-orang yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Masukkan diri kita ke dalam golongan ini. Setan hanya bisa mempengaruhi dan menguasai orang-orang yang mematuhinya dan menyekutukan Allah swt. Maka, janganlah kita masuk ke dalam golongan ini. _Wallahu_ _A’lam_ _bish-shawwab.

Penulis Dosen UIN SGD Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.