Arif Susanto: Saat Pemilu Politisasi SARA Terus Bertahan dan Terulang

 

Jakarta, Wartapelita.com
Politisasi SARA merupakan suatu Penyakit berulang dalam kontestasi kekuasaan di indonesia. Sejak Pemilu 1999, Ujar Arif Susanto dalam Diskusi Publik di Kawasan Cikini Jakarta, Sabtu, (12/5/2018).

Isu politisasi SARA digunakan untuk memukul lawan dan menangguk dukungan massa pemilih. Tetapi, belum pernah hal tersebut memicu pembelahan sosial yang begitu massif seperti saat ini. Yang dimaksud dengan politisasi SARA di sini adalah pembedaan identitas berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan, yang dimaksudkan untuk menimbulkan sentimen politik, namun berdampak degradasi kesetaraan dan timbulnya kebencian terhadap yang berlainan. Tutur Arif.

Kata Arif, politisasi SARA biasanya disampaikan melalui agitasi, propaganda, dan bentuk-bentuk lain seruan politik yang cenderung membelah masyarakat dalam dua kelompok berlawanan, kami versus mereka.

Gejala perseteruan dan prasangka sosial yang mengiringi polarisasi politik disebut oleh Cass R Sunstein (2016) sebagai partaiisme (partyism). Polarisasi tersebut tidak sekadar mendorong orang untuk menjadi partisan; selain aktif menyebarluaskan informasi negatif tentang kubu 90“th yang berseberangan. orang bahkan bisa saja menolak berelasi dengan pendukung lawan politik. Ungkap Arif.

Lanjut Arif, politisasi SARA rentan teriadi dalam suatu masyarakat dengan ketimpangan ekonomi, keterplnggiran. dan bentuk-bentuk lain ketidak-adilan sosial yang berpadu dengan kurangnya literasi politik dan literasi media.

Terlalu ketat persaingan politik, di tengah lemahnya hukum dan etika politik, dapat mendorong politikus untuk menjalankan politisasi SARA untuk memukul lawan politik. Tambah Arif

Arif menilai, Politisasi SARA mengekspresikan politik kotor yang dapat menurunkan legitimasi hasil Pemilu dan kualitas demokrasi. Dibutuhkan pengembangan literasi politik dan literasi media, iuga pemenuhan keadilan sosial. Selain itu. dibutuhkan politik dialogis,

yang mempertarungkan gagasan politik secara kritis. –Yayan Achmad Yani-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *