Baliho dan Ketegaran Pemimpin : Oleh Dadan Saepudin (Penulis Praktisi Pendidikan dan Mahasiswa Magister Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Siliwangi Bandung)

Tahun 2018 akan diramaikan dengan kondisi politik di tanah air, pada tahun ini diselenggarakan Pilkada serentak pada tanggal 27 Juni 2018. Termasuk di Provinsi Jawa Barat, akan digelar pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur serta pemilihan kepala daerah di beberapa kabupaten dan kota.

Menjelang Pilkada, kita disuguhkan dengan alat peraga sosialisasi gambar para tokoh dari mulai ukuran besar, sedang, maupun kecil. Sosok yang menebarkan harapan dengan senyuman yang khas masing-masing para tokoh yang ada di baliho tersebut. Bahkan alat peraga sosialisasi tersebut bertebaran sebelum pembukaan pendaftaran kepala daerah di KPUD. Dilihat dari kacamata dinamika demokrasi, bermunculan sosok yang siap membangun daerah merupakan suatu perkembangan yang positif, hal itu menunjukkan bahwa kepemimpinan bersifat dinamis serta adanya pilihan bagi masyarakat untuk menimbang dan memutuskan suaranya pada saat Pilkada berlangsung.

Teka-teki siapa saja yang akan mengikuti perhelatan Pilkada sudah kita ketahui karena pada Rabu, 10 Januari 2018 merupakan hari terakhir pendaftaran bakal calon Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota yang diusung partai politik. Ajang Pilkada menjadi sorotan semua pihak karena merupakan momentum terkait dengan ekspektasi adanya perbaikan suatu daerah ke arah yang lebih baik. Nama-nama yang diusung mayoritas adalah sosok yang potonya bertebaran di pinggir jalan, namun ada juga nama yang potonya tidak bertebaran di pinggir jalan.

Seiring dengan itu, pemimpin memiliki peran penting dalam membangun daerahnya. Rekam jejak masing-masing kandidat bisa menjadi modal dalam mengemban tugasnya ke depan. Sejatinya menjadi pemimpin memiliki tanggungjawab yang besar, ia bukan sekadar bertanggungjawab kepada masyarakat di daerah pemilihannya namun dalam bahasa agama akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat kelak.

Sejalan dengan itu, sebagai bagian dari masyarakat Jawa Barat, ada sebuah ekspektasi, bahwa proses Pilkada di Jawa Barat berjalan dengan lancar sehingga demokrasi di Jawa Barat berjalan secara sehat. Arus informasi dan teknologi merupakan langkah positif dalam mengenal para tokoh juga di satu sisi, kita perlu mawas diri dari informasi yang tidak valid atau istilah populer berita “hoax”.

Sejatinya, dalam proses Pilkada ini, masyarakat harus disuguhkan informasi yang mencerdaskan bukan informasi yang bersifat hoax, pertarungan dalam merebutkan kekuasaan dilakukan secara konstitusional sehingga hal-hal yang berbau politik menghalalkan segala cara seperti money politic, isu sara, dan sebagainya tidak ada pada ajang Pilkada serentak 2018.

Menjadi pemimpin tidak lepas dari pro dan kontra, karena hal itu merupakan kewajaran. Begitupun menjadi pemimpin tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membutuhkan semangat dan kerja keras. Maka, tentu dalam proses itu, kepemimpinan harus tegar, sebagaimana baliho yang terpasang, walau kehujanan dan diterpa angin, masih tetap semangat dan tersenyum merajut asa rakyat.

Jika kita melihat sejarah para pemimpin masa lalu, tentu banyak hal yang dapat kita teladani. Misalnya, perbuatan yang dilakukan oleh Pemimpin Umar Bin Khattab,  ada sebuah kebiasaan yang patut diteladani beliau sering berkeliling pada malam hari, pada suatu malam, ia mendengar rintihan anak-anak kemudian beliau dekati dan ternyata ada seorang ibu yang memasak batu agar anaknya tertidur pulas dikarenakan menunggu masakan ibunya. Singkat cerita, beliau mengambil makanan dan memanggulnya sendiri untuk diberikan kepada keluarga tersebut.

Baliho menjadi simbol mengenai potret bagi pemimpin yang siap mengarungi arena kepemimpinan.  Siapapun yang terpilih, mereka sejatinya adalah pemimpin masyarakat di daerah pemilihannya bukan lagi milik satu golongan tertentu. Bisa jadi persepsi publik menjadi pemimpin ada kenyamanan misalnya berbagai fasilitas yang diberikan negara kepadanya. Akan tetapi, sejatinya menjadi pemimpin memiliki tugas yang berat, dengan demikian kepemimpinan harus dibingkai dengan keikhlasan, integritas, dan kompetensi. Mari kita berlomba dalam kebaikan. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *