Forum dialog perempuan dan pemilu 2019 “misinformasi dan disinformasi dalam kampanye pemilu”

wartapelita.com – Jakarta, International Foundation for Electoral Systems (IFES), dan International Republican Institute (IRI) menggelar Forum Dialog Perempuan dan Pemilu 2019 berjudul ‘Misinformasi dan Disinformasi dalam Kampanye Pemilu.’ Diskusi ini diselenggarakan untuk memperingati hari Perempuan Internasional, sebuah kampanye global untuk mempromosikan hak-hak perempuan dan inklusifitas gender. (19/03/19)

Di Indonesia, hambatan terhadap partisipasi perempuan mencakup permasalahan sosio-kultural yang umum, hingga hambatan hukum dan peraturan, seperti mekanisme pendanaan politik dan kuota keterwakilan perempuan yang masih belum dapat terpenuhi. Sekalipun UU pemilu telah mewajibkan partai politik untuk memasukkan minimum 30 persen kandidat perempuan dalam daftar pencalonan mereka, hingga kini hanya 18,92 persen perempuan yang duduk di kursi DPR. Untuk pemilu 2019 ini, 16 partai politik di tingkat nasional dan empat partai di tingkat lokal yang akan berkontestasi telah memenuhi persyaratan 30 persen keterwakilan kandidat perempuan. Sekalipun jumlah perempuan yang dicalonkan di setiap putaran pemilu semakin meningkat, jumlah total perempuan di Parlemen tetap stagnan, dan hal ini mencerminkan bagaimana sesungguhnya banyak dari mereka yang pada akhirnya tidak terpilih Menuju Pemilu 2019, Indonesia juga tengah menghadapi ancaman misinformasi dan disiformasi yang serius.

Disiformasi dan retorika yang diwarnai kebencinan telah menjadi ancaman terhadap partisipasi perempuan dalam politim secara global, dan oleh karenanya sangat panting untuk memberdayakan kedua belah pihak. bank perempuan dan laki – laki dengan pendekatan yang sesuai untuk mengatasi ancaman ini,” ujar vasu Mohan direktur ifes Mohan directur ifes regional Asia Afrika ‘Diserahkan kepada perempuan dan ‘sekutu“ gerakan perempuan untuk berjuang bersama melawan ancaman yang dirasa di luar bekas termasuk didalamnya retorika Yaang di warnai kebencian dan ancaman kekerasan yang dialami 0leh kandidat perempuan dan pada akhirnya masyarakat umum secara luas.

Ini adalah saat uang tepat bagi pengampu kebijakan kepemiluandi Indonesia untuk mendiskusikan lebih jauh perihal berbagai hambatan terhadap partisipasi perempuan dan politik,yang terus berkembang seiring zaman”papar direktur ifes Indonesia,Admiral salim.
Itulah mengapa ,ifes dan iri menghimpun berbagai perwakilan dari partai politik dan organisasi masyarakat sipil guna mendiskusikan berbagai tantangan dan mulai mengidentifikasi peluang – peluang solusinya.acara forum dialog pada 19 Maret ini dimoderasi oleh dr.sri Eko Wardani dari fakultas ilmu sosial dan politik di universitas Indonesia.beberapa pembicara yang terlibat antara lain komisioner KPU Evi Novida Ginting ana Margret, direktur Cakra wikara Indonesia (cwi).dan Valentina Sri wijiyati ketua presidium sektaris masyarakat anti fitnah Indonesia (Yayan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *