Guru Patut “Digugu dan Ditiru, Bukannya Wagu dan Keliru”

Bandung Barat, warta pelita.com-
Pigur seorang guru, dalam bahasa kirata adalah orang yang patut “digugu dan ditiru”, tapi saat ini masih ada oknum guru yang wagu dan keliru.

Salah satu contoh di satu sekolah, sebut saja SDN Lembur Sawah, yang ada di Kecamatan Cihampelas. Kamis (05/12), tiga orang awak media sengaja datang ke sekolah tersebut untuk melakukan konfirmasi masalah pembangunan sekolah yang sedang dilaksanakan, yang didanai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2019.

Saat wartawan datang ke sekolah tersebut, Kepala Sekolahnya tidak ada ditempat, katanya sedang pergi mengikuti kegiatan di salah satu sekolah, tapi saat kami datang ke sekolah yang ditunjukan ternyata KS itu tidak ada.
Esok harinya kami datang lagi ke sekolah tersebut, tapi Kepala Sekolah itu tidak ada lagi, katanya baru saja keluar, namun sejumlah guru yang ada tidak mau menjelaskan kemana perginya Kepala Sekolah itu, mereka cukup menyebut tidak tahu, apa mungkin seorang pimpinan mau keluar tidak memberi tahu kepada bawahannya?

Dengan tidak adanya Kepala Sekolah dan tidak ada keterangan yang jelas dari para guru yang ada, tentunya para awak media merasa heran, kemanakah Pak KS itu. Bahkan oknum guru yang ada ditempat tidak ada satu pun yang menegur kepada tamu tak diundang itu, apakah darimana, atau apa maksud dan tujuannya, semua bungkam dengan wajah yang tidak bersahabat.

Biasanya kalau adat orang timur, khususnya bagi orang sunda, walaupun bagaimana senyum, salam dan sapa (3-S) itu selalu diutamakan. Apalagi ini berstatus guru, yaitu tadi yang patut digugu dan ditiru, ternyata dijaman now ini masih ada oknum guru yang wagu alias bego dan keliru.

Minimal mereka itu menyuruh masuk atau memberikan buku tamu, agar diketahui oleh pimpinannya, bahwa selama tidak ada pimpinan, ada tamu siapa dan darimana serta maksud dan tujuannya apa, agar ketahuan.

Tapi saat itu seorang guru pria, santai saja minum kopi sambil berdiri, kemudian seorang guru wanita duduk-duduk dengan santai dengan muka yang tidak bersahabat, dari kedua guru tersebut, sama sekali tidak ada sambutan yang menyenangkan.

Kalau guru sudah seperti ini, ada pribahasa “ Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari” dalam hal ini tentunya akan ada prasangka buruk terhadap guru itu sendiri, istilahnya bagaimana sikap muridnya kalau gurunya seperti itu.

Padahal kami datang bukannya untuk mengemis atau meminta sesuatu dari sekolah, walaupun sekolah itu sedang ada kegiatan membangun, tapi tujuan kami akan mengkonfirmasikan temuan-temuan yang telah kami serap dilapangan.

Untuk itu, dengan terbitnya berita ini semoga saja menjadi pembelajaran bagi sejumlah oknum guru yang wagu dan keliru, agar kepada para tamu yang datang, baik dari ormas, LSM atau awak media jangan menganggap bahwa kedatangan mereka hanya untuk meminta sesuatu.

Karena dalam hal ini kami pun sadar, bahwa buat apa meminta jatah atau bagian dari proyek tersebut, sebab kami tidak ikut andil modal atau meminjamkan duit kepada guru atau Kepala Sekolah, untuk membangun sekolah tersebut, hanya kami ingin menyampaikan berbagai temuan dilapangan yang perlu dikonfirmasikan. Kami selaku awak media wajib melakukan pekerjaan sesuai Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) sebagai social control. (Yat.SB).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *