Hati-Hati Penipuan Berkedok Investasi

Bandung Barat, Warta Pelita
Penipuan berkedok Investasi, sudah terjadi beberapa kali, dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Ada yang inves untuk modal usaha, inves perhiasan, bahkan inves untuk berangkat umroh. Mungkin sudah ratusan bahkan ribuan orang yang kena rayuan gombal oknum-oknum tersebut. Seperti yang dialami seorang remaja, sebut saja Ayu warga Indramayu dirayu dan diperdaya lewat Sosial Media (Sosmed).

Ceritanya panjang, si Ayu ini sejak menginjak remaja, ia merantau untuk mengadu nasib, bekerja di luar negeri, mulai dari Singapura, Malaysia hingga ke Hongkong, karena ia dituntut oleh orang tuanya untuk membantu menafkahi keluarganya. Seolah ia menjadi tulang punggung dari semua keluarganya.

Selama bekerja di luar negeri, ia punya kenalan lewat Sosmed, bernama Ramdani yang mengaku bertempat tinggal di Pangalengan Kabupaten Bandung, tepatnya di Desa Sukamanah Kecamatan Pangalengan.

Setelah beberapa waktu berkenalan, kemudian si Ramdani yang mengaku Bandar sayuran organic dan orang pintar serta bersetatus Haji ini, merayu si Ayu, untuk investasi modal usaha, yaitu untuk usaha sayuran organic, dengan iming-iming berpenghasilan besar.

Karena tertarik, kemudian si ayu mentransfer uang kepada si Ramdani sebesar Rp.50 juta, untuk inves. Namun tak lama kemudian si Ramdani ini memohon lagi kepada si Ayu untuk ditambah lagi invesnya, karena katanya modal segitumah tanggung, hasilnya kecil coba tambah lagi katanya, sebagaimana dikatakan ayu kepada Warta Pelita.

Sebab terus dirayu akhirnya si Ayu mentransfer lagi sebesar Rp.100 juta, kemudian uang itu diterima oleh si Ramdani, bukan hanya sebatas itu, si ramdani terus meminta lagi tambahan uangnya, yang akhirnya hitung punya hitung uang yang sudah ditransfer ke si Ramdani lebih dari Rp.300 jutaan.

Pada Oktober 2017, si Ramdani ngontek si ayu untuk bertemu di Bandung, untuk membicarakan tentang investasinya. Atas panggilan si Ramdani ini si Ayu tentu saja merasa senang, dalam benaknya tentu uang miliknya sudah bertambah dari jumlah investasi yang telah diberikan kepada si Ramdani.

Mulai berangkat dari Hongkong menuju Indonesia, hatinya berbunga-bunga, dengan harapan ia menjadi seorang investor yang berhasil, berkat kerja sama dengan Pak Haji ini. Setibanya di Bandung, ia dijemput oleh si Ramdani di Stasiun Bandung dengan menggunakan sebuah mobil berwarna hitam, entah mobil jenis apa dan merk apa aku tidak sempat memperhatikan kendaraan tersebut, jelas si Ayu kepada warta Pelita.

Kemudian si Ayu diajak untuk singgah di rumah si Ramdani, tapi ditengah perjalanan, si Ramdani menghentikan mobil yang ditumpangi aku dan si Ramdani beserta dua orang temannya yaitu seorang lelaki yang mengendarai mobil dan seorang perempuan memakai jilbab.

Kemudian mobil itu dibelokan ke sebuah hotel, namun aku tidak mengetahui hotel apa dan di jalan mana posisisnya, karena saat itu juga HP aku diambil oleh si Ramdani, tidak boleh memotret atau menelpon siapa saja, katanya.

Setelah masuk hotel, mobil yang ditumpangi aku disuruh berangkat bersama seorang perempuan yang tadi, dan aku diajak masuk kamar hotel, namun saat itu si Ramdani keluar, sebelum keluar ia mencabut kartu HP aku, katanya mau diganti dengan kartu baru beserta powerbank milik aku dipinjam, alasannya HP milik si Ramdani habis baterainya dan aku disuruh nunggu dikamar, kemudian dikunci dari luar.

Tak lama kemudian si Ramdani datang membuka kamar hotel, kemudian menghampiri aku sambil berkata bahwa aku itu sakit, harus dimeditasi, saat itu ia menyatakan bahwa ia adalah orang pintar, dapat mengobati berbagai macam penyakit, jelas si Ayu kepada Warta Pelita.

Saat itulah ia menyuruh aku membuka pakaian, untuk di meditasi dan ia mengancam jangan berontak atau berteriak, karena diluar banyak temannya, bila berontak atau berteriak aku akan dicelakakan oleh temannya, ujar si Ramdani kepadaku. Aku saat itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah dan menyerah pada si Ramdani dan saat itu aku bukannya di meditasi, tetapi digauli hingga beberapa kali, ujar si Ayu.

Pagi harinya sekitar pukul 4 pagi, aku diajak pindah dari tempat itu, dengan alasan bahwa salah seorang keluarga si Ramdani mengetahui keberadaan si Ramdani di tempat itu. Kemudian aku dibawa ke tempat lain dengan menumpang sepeda motor bertiga, menuju sebuah hotel di daerah Banjaran, tepatnya di dekat pasar Banjaran.

Di Hotel itulah aku ditinggalkan oleh si Ramdani,pagi harinya petugas hotel mengetuk pintu, katanya aku harus segera cekout, karena waktunya sudah habis. Dari situ aku keluar dan tidak tahu kemana arah aku harus pergi. Saat itu aku bertekad untuk menuju arah stasiun Bandung, kebetulan didepan ada seorang ibu yang menanyakan aku mau kemana, kemudian aku jelaskan akan pergi ke stasiun Bandung namun aku tidak tahu, dengan rendah hati si ibu mau untuk mengantar aku ke stasiun Bandung.

Dari stasiun Bandung aku beli tiket ke Surabaya, sebab ada telpon dari ponakan si Ramdani di Surabaya, yaitu di salah satu Kampus Fakultas Ekonomi Surabaya.

Keesokan harinya aku sampai di Surabaya dan langsung menuju kampus tersebut. Setibanya di kampus aku langsung menghubungi ponakannya si Ramdani lewat telepon, kata dia tunggu saja sampai aku habis belajar, katanya.

Setelah lama menunggu aku telepon lagi katanya ada pelajaran tambahan, tetap saja aku harus nunggu, aku merasa tanggung daripada tidak ketemu lebih baik nunggu saja, sambil aku menanyakan ke petugas kampus dan mahasiswa yang lain mengenai nama itu, tapi semua tidak ada yang tahu, katanya di kampus ini tidak ada nama ini, termasuk wajahnya yang diperlihatkan dalam HP aku.
Di kampus itu aku menunggu hingga larut malam tapi yang bersangkutan tidak keluar-keluar, hanya sebelumnya ia pernah mengatakan bahwa aku itu pakai baju apa dan berada di sebelah mana, karena katanya ia sudah keluar kampus, jelas Ayu.

Namun saat itu aku merasa ada yang menghantui, sebab ada sebuah mobil yang terus menguntit aku dari belakang, saat aku berpindah-pindah tempat, karena saat itu dalam keadaan hujan deras. Terakhir saat aku sedang berjalan diserempet dari belakang oleh sebuah mobil warna hitam dan langsung mobil tersebut tancap gas.

Dari situ aku bergegas menuju stasiun Pasar Turi Surabaya, sambil menunggu keberangkatan ke Jakarta esok harinya. Kemudian aku pagi harinya berangkat naik kereta api ke Jakarta, sore harinya aku sudah sampai ke stasiun Gambir, dari stasiun Gambir aku menuju Bandara Sukarno hatta untuk menunggu keberangkatan lagi ke Hongkong.

Setelah bekerja lagi di Hongkong, aku punya lagi sahabat lewat sosmed, masih orang Bandung juga, awalnya aku merasa was-was berhubungan dengan orang itu. Karena aku sudah tidak ada lagi hubungan dengan orang tua dan sanak keluarga yang ada di Indramayu, akhirnya aku memutuskan bahwa orang ini akan dijadikan sahabat dan keluarga besar aku. Di satu saat aku memutuskan untuk menemui orang ini dan aku minta cuti untuk pulang dulu ke Bandung.
Oleh yang bersangkutan aku dijemput di Bandara Soekarno Hatta, hingga akau sekarang ada di kecamatan sindangkerta Kabupaten Bandung Barat dan sekaligus aku diajak olehnya untuk mengurus permasalahan aku kepada Biro Hukum atau Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Awalindo yang berada di Sarimanggala Desa Sindangkerta Kecamatan Sindangkerta Kabupaten Bandung Barat, jelas Ayu saat mengakhiri obrolannya dengan wartawan Warta Pelita dan ia berharap masalah ini semoga lancar dalam pengurusannya agar segera ada titik terang bagi aku dan semuanya yang membantu aku, imbuhnya.(Yat.SB).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *