Indonesia Darurat Rokok

Jakarta, wartapelita.com

Fenomena yang terjadi pada anak usia 2 tahun di Sukabumi, Jawa Barat bernama Rapi Ananda Pamungkas kembali menimbulkan keprihatinan, Rapi telah mengalami kecanduan rokok, dimana setidaknya menghabiskan 40 batang rokok. Perilaku merokoknya jelas mengejutkan semua pihak, Rapi saat ini dalam kondisi adiktif dan terancam kesehatannya.

Kondisi Rapi merupakan bukan hal pertama di Indonesia, perilaku kecanduan merokok pada usia balita jelas hal yang mengerikan. Usia anak yang seharusnya pada taraf tumbuh kembang anak mendapatkan asupan gizi yang sehat dan pendidikan yang baik, namun harus terjebak pada adiktif rokok yang mengancam kesehatan dan tumbuh kembang.

Indonesia adalah salah satu negara rokok  terbesar di dunia,  dengan lebih dari 60 juta perokok aktif pada 2017, berdasarkan angka dari Kementrian  Kesehatan. Pada tahun tersebut pula, kementrian mencatat peningkatan 8,8 persen dalam jumlah perokok muda yang berusia 10 hingga 18 tahun. Data atlas pengendalian tembakau ASEAN mengungkapkan lebih 30% anak Indonesia mulai merokok sebelum 10 tahun. jumlah itu mencapai 20 juta anak. ”Ujar Hafidz sekjen pimpinan pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah”

Selain itu, harga rokok di Indonesia merupakan harga paling murah, hal tersebut diperparah konsumsi rokok banyak dikonsumsi oleh keluarga miskin. Rokok juga menjadi kebutuhan nomor dua setelah beras.

Realitas Rapi merupakan satu yang terungkap di publik, masih banyak realitas kecanduan rokok pada anak yang lain. Kondisi ini telah menjadikan ”Indonesi Darurat Rokok”, Pemerintah masih enggan memberikan langkah perlindungam masyarakat dari darurat rokok tersebut. Aksesi FCTC merupakan langkah utama dalam melindungi masyarakat dari darurat rokok.

Kondisi Rapi harus dihentikan agar anak-anak negeri ini tidak terancam dalam kecanduan zat adiktif rokok. Agar negara ini tidak melahirkan generasi yang adiktie dan berpenyakit akibat pengaruh buruk rokok. Maka Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammdiyah (IPM) meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk melakukan:

1. Langkah perlindungan melakukan Pelarangan Iklan Promosi Sponsor Rokok, di semua media. Berdasarkan penelitian, iklan promosi sponsor rokok mempengaruhi perilaku merokok dan meningkatkan prevalensi merokok pemula pada anak.

2. Penerapan 100% Kawasan Tanpa Rokok, sebagaimana yang menjadi komitmen Presiden Jokowi pada Nawa Cita. Bahwa Kawasan Tanpa Rokok selain memberikan perlindungan kesehatan dari paparan asap rokok, sekaligus memberikan edukasi pada masyarakat untuk berhenti merokok, serta menciptakan lingkungan bebas dari perilaku merokok yang dapat dilihat dan ditiru oleh anak-anak.(Yayan Achmad Yani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *