MAKAN GRATIS DI KANTIN RUMAH RAKYAT

Tahun 2015 bisa jadi tahun yang memiliki arti bagi penulis karena pada tahun tersebut ada peristiwa yang penomenal terkait dengan kegiatan dalam rangka menyampaikan aspirasi guru madrasah kepada wakil rakyat di parlemen. Sebuah gerakan yang berangkat dari nurani untuk mengetuk pintu rumah rakyat bersama rekan-rekan guru madrasah lainnya.

Ada peristiwa yang menarik dirasakan tak lekang oleh waktu dan terus bersemayam dalam kalbu. Di satu sisi ada sebuah keprihatinan mengenai kondisi rekan sejawat mengenai pengembangan karier dan di sisi lain ada sebuah kebahagiaan terhadap kekompakan rekan sejawat dalam memperjuangkan masa depannya.

Setibanya di Ibu Kota, kami pun transit terlebih dahulu di Masjid Istiqlal Jakarta, selepas shalat shubuh para pejuang guru madrasah melakukan rapat kecil untuk melanjutkan silaturahmi ke gedung DPR RI. Pukul 07.00 WIB kami pun bergegas menuju gedung DPR Ri dengan dikawal pihak kepolisian.

Setibanya di depan DPR RI, kita berkumpul di gerbang depan. Korlap utama pun kemudian mengambil alih komando yang mengajak rekan-rekan sejawat berkumpul. Satu persatu korlap dari setiap daerah diberikan kesempatan untuk menyampaikan orasinya.

Kesempatan itu pun diberikan kepada penulis untuk berorasi, walau terik mentari menemani tak membuat surut untuk menyuarakan ekspektasi guru madrasah. Rasa lapar pun tidak dirasa karena semangat telah menutupi rasa lapar dan haus itu.

Kondisi saat itu cukup alot, karena kami meminta ketemu langsung dengan anggota DPR RI, dan akhirnya kami diterima oleh DPR RI Komisi 8 untuk berdialog dan juga turut hadir para pemangku kebijakan dari Kemenag.

Ada yang menarik dari cerita tersebut, ketika penulis beserta rekan-rekan lainnya yang menahan rasa lapar dan haus ketika aduiensi dengan para pemangku kebijakan. Ketika selesai audiensi pun, rasa lapar itu ternyata tak bisa kompromi.

Selepas audiensi bukan tidak mau berfoto dengan wakil rakyat dan birokrat sebagai tanda dan kenangan bahwa kita pernah berdialog dengan mereka. Namun, yang terpikirkan yaitu bagaimana saya bisa berdamai dengan perut ini.

Di kejauhan, terdengar ada orang yang memanggil nama daerah tempat tinggal penulis. “Mana anu ti Bandung Barat”, ucap seorang pria di dekat pintu gedung rapat dilihat dari seragam yang ia pakai seperti pegawai keamanan di DPR RI.

Saya pun menengok orang tersebut, dan menghampirinya bersama Bu Rini dan Bu Rina. “Abdi di Bandung Barat Pak”, saya pun menyahutnya. Akhirnya kami bertemu dengan Bapak tersebut dan ternyata ia pun berasal dari Kabupaten Bandung barat dan bekerja di gedung rakyat.

Selepas kami ngobrol santai dengannya, ia pun berucap, “Sudah makan”? ucapnya. Saya beserta rekan dari Bandung Barat hanya bisa melempar senyuman dan berkata seolah tertekan rasa malu. “Belum Pak”, jawab kami.

Ia pun mengajak kami ke belakang gedung DPR RI, dan ternyata di belakang terdapat kantin. Kami pun di bawa ke salah satu kantin yang ada di belakang kantor dan dipersilakan untuk pesan apa saja. Setepas makan, kami pun di ajak berkeliling di gedung rakyat sambil mengenalkan ruangan-ruangan yang ada di gedung tersebut.

Kami pun pamit kepadanya karena harus kembali berkumpul dengan rekan lainnya dengan mengucapkan terima kasih atas jamuannya yang tak terhingga. Ia pun memberikan nomor kontak yang disimpan oleh salah seorang rekan sejawat.

Ada pelajaran yang berharga yang tak bisa terlupakan, bahwa kita harus senantiasa berbaik sangka pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Dalam berbuat kebaikan jangan pernah mengeluh, mengungkit-ungkit kebaikan sehingga ingin mendapatkan balasan dari orang lain. Karena sejatinya berbuat kebaikan tak akan ada nilainya jika hanya ingin mendapatkan penilaian dari orang lain.

Selain dari itu, saya pun mendapatkan pelajaran berharga dari bapak yang mentraktir makan di kantin. Walau pun kita jauh bekerja di perantauan kita pasti akan ingat ke kampung halaman. Walau pun ia telah sukses bekerja di ibu kota, ia tak lupa kepada handai tolan.

Penulis, Praktisi Pendidikan tinggal di Kab. Bandung Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *