Stop Aksi Perundungan!

Akhir-akhir ini, ada peristiwa yang sangat memprihatinkan yang viral di media sosial terkait dengan aksi yang tak terpuji dilakukan oleh pelajar dari mulai tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas yaitu membully disertai aksi kekerasan fisik secara berkelompok kepada pelajar lainnya. Aksi tersebut populer disebut dengan perundungan.

Dalam kamus KBBI Online perundungan diartikan sebagai proses, cara, perbuatan merundung. Sedangkan merundung diartikan menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama seseorang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong.

Aksi perundungan di kalangan pelajar tentu harus diakhiri, karena hal itu tidak bersifat mendidik apalagi jika membully seseorang di muka umum seperti media sosial karena dapat memicu kebencian, permusuhan, dan kekerasan. Banyak kasus terkait dengan aksi perundungan tersebut misalnya baru-baru ini yang viral aksi perundungan di Purworejo, Jawa Tengah yang dilakukan oleh tiga orang siswa kepada salah seorang siswi di ruang kelas bahkan mereka memukul, menampar, dan menendang siswi tersebut.

Terkait dengan kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun verbal, alangkah baiknya kita perhatikan hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, artinya “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. Hadist tersebut mengingatkan kita agar selalu menjaga lidah untuk berkata dengan baik yang tidak melukai perasaan orang lain. Ada pepatah mengatakan luka karena goresan pedang akan cepat sembuh namun luka karena lidah lama untuk sembuhnya.

Dalam Alquran terdapat perintah bagi manusia untuk berkata dengan perkataan yang baik, benar, lemah lembut, komunikatif, dan sopan santun. Seperti Qaulan Kariman yaitu ucapan yang memuliakan/lemah lembut terdapat dalam QS. Al-Isra ayat 23 dan ucapan yang Qaulan Sadidan yaitu perkataan yang jujur, benar, serta tegas dalam Alquran surat An-Nisa ayat 9 dan Al-Ahzab ayat 70.

Ujaran yang bernada “bulliying” untuk dihindari oleh setiap pelajar ketika berinteraksi dengan sesama baik secara langsung maupun melalui media sosial. Hal ini penting, agar kita selalu menumbuhkan perilaku yang positif dan tidak mengusik seseorang terutama di media sosial yang dapat dibaca oleh orang lain.

Membiasakan diri untuk saling memanggil dengan panggilan yang baik, hal ini sangat dianjurkan untuk menumbuhkan persahabatan. Karena jika kita saling memanggil dengan panggilan yang tidak disukai, hal itu akan menumbuhkan rasa kebencian, bahkan jika terus diulang akan menumbuhkan citra diri terhadap yang dipanggilnya. Misalnya, jika sering dipanggil seseorang sebagai “siswa nakal”, maka akan lahir sebuah persepsi bahwa ia dipandang sebagai “siswa nakal” sehingga lama-kelamaan akan menumbuhkan citra diri bagi dirinya.

Selanjutnya, pada hadits tersebut ada kata wayadihi, dan tangannya, kata tangan pada hadits tersebut apabila dikaitkan dengan keselamatan orang lain bermakna bahwa tidak mengganggu orang lain dalam bentuk fisik. Pesan moralnya dalam menjalani kehidupan untuk selalu menjaga keharmonisan bermasyarakat sehingga tercipta rasa aman dari perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji.

Untuk mengatasi aksi perundungan banyak hal yang harus dilakukan seperti membiasakan memanggil seseorang dengan panggilan yang baik, saling menghargai, bijak dalam menggunakan media sosial, tidak mengakses konten yang mempertontonkan “kekerasan”, dan tidak lupa yang paling penting keteladanan dari orang tua, guru, serta pihak lainnya kepada anak-anak kita sehingga mereka akan belajar hal-hal yang positif dari kita.

Atas dasar itu, maka penting aksi perundungan diakhiri karena tidak sesuai dengan norma agama dan norma hukum. Apalagi hal itu dilakukan oleh para pelajar yang sejatinya mereka adalah generasi penerus untuk melanjutkan cita-cita para pendiri negara kita. Saatnya para pelajar untuk fokus menggapai masa depan yang gemilang dengan diikat tali persahabatan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

(Penulis, Praktisi Pendidikan dan Staf Redaksi Warta Pelita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *