Limbah Ampas Aci Kawung Cemari Kali Ciminyak

Bandung Barat, Warta Pelita.com Kali Ciminyak yang membentang antara Desa Wangunsari, Buninagara, Weninggalih dan Desa Cikadu Kecamatan Sindangkerta hingga Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin. Sejak beberapa tahun kebelakang sampai saat ini, tercemar limbah ampas aci kawung yang dikelola sejumlah warga setempat. Ampas kawung bekas membuat aci itu dibuang begitu saja ke kali Ciminyak, tanpa ada pembuangan khusus atau pengolahan limbah tersebut. Kini kali Ciminyak itu airnya bau dan menimbulkan banyak ulat yang seperti lintah. Hal itu diungkapkan sejumlah warga Desa Cikadu kepada Warta Pelita.

“Kalau kita menyebrang kali atau mencuci kaki, ulat itu nempel di kaki seperti lintah dan setelah nyeberang atau nyuci kaki antara lima hingga sepuluh menit, kemudian kaki mulai terasa gatal, apalagi sekarang musim kemarau, jadi limbah itu banyak yang menempel di bebatuan karena tidak terbawa arus air, berhubung debit airnya sangat kecil, “paparnya.

Menurut sumber, permasalahan ini sudah kami laporkan kepada Kepala Desa dan Camat Sindangkerta yang dulu, tapi tidak ada realisasinya, makanya kami menunggu, sejauh mana pihak pemerintah setempat menangani limbah ini, Karena limbah tersebut  telah mengendap puluhan tahun. Apalagi sekarang, ada program Citarum Harum, yang terus disosialisasikan kepada masyarakat. Sedangkan kali Ciminyak ini bermuara ke Citarum, kalau limbah ini terus dibiarkan tentunya Citarum juga akan kena dampaknya, jelas sumber.

Untuk itu kami berharap, pihak terkait segera memberikan solusi terbaik, kepada pihak pengusaha aci kawung ini, yang telah berdiri sejak puluhan tahun kebelakang, agar kali Ciminyak ini terhindar dari limbah dan dapat mengurangi sedimentasi atau pendangkalan, tandasnya.

Saat Warta Pelita akan mengkonfirmasikan kepada Kasi Trantib Kecamatan Sindangkerta, kebetulan sedang tidak ada ditempat.

Namun salah seorang staff Kecamatan Sindangkerta, Adis mengungkapkan bahwa hal itu memang benar adanya dan sudah diketahui oleh pihak pemerintah setempat. Bahkan beberapa waktu lalu, berdasarkan laporan warga, kami beserta petugas dari Lingkungan Hidup (LH) pernah meninjau ke lokasi pembuatan aci kawung itu.

“Waktu itu camatnya masih dijabat oleh Pak Sobandi dan kebetulan sekarang Pak Sobandi itu diangkat menjadi Sekdis di Lingkungan Hidup (LH).”ujar Adis.

Dari hasil peninjauan tersebut, kami berharap segera ada realisasinya, untuk menindak lanjuti permasalahan ini. Minimal ada pemberitahuan atau pembinaan kepada para pelaku usaha itu dan memberi solusi terbaik. Apakah limbah itu dibuang pada suatu tempat, kemudian akhirnya dibakar, atau diolah untuk dijadikan pupuk organic, papar Adis.

“Karena pihak pemerintah bisa saja bekerjasama dengan pihak Perguruan Tinggi, misalnya dengan ITB atau Unpad, untuk bagaimana caranya agar limbah tersebut tidak dibuang sembarangan dan dapat menghasilkan produk yang  bermanfaat” jelas Adis.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *