Menghadirkan Keikhlasan dalam Pengabdian Oleh: Dadan Saepudin

Ada seorang ahli bangunan, ia sangat mahir ketika membangun sebuah rumah, karyanya banyak dikagumi oleh orang lain termasuk oleh pimpinannya. Bertahun-tahun ia bekerja, suatu hari timbullah rasa jenuh dan akhirnya ia ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya yang sudah lama ia geluti.

Ia pun menemui pimpinan menyampaikan keinginannya untuk keluar dari pekerjaan. Saat bertemu dengan pimpinan, ia mengutarakan hal tersebut. Mendengar apa yang disampaikan oleh pekerjanya, tentu perasaan seorang pimpinan sangat terkejut karena yang ada di depannya apalagi berkeinginan untuk keluar dari perusahaannya adalah seorang pekerja terbaik dan ia kagumi karena keuletan dari sebuah karya besarnya.

Pimpinannya pun tidak bisa menahan keinginan dari pekerja yang ia kagumi, namun ia mengajukan satu permintaan kepada pegawai tersebut untuk membuatkan rumah yang akan ia berikan kepada sosok yang ia kagumi. Karena, pegawai tersebut sangat ingin berhenti dari pekerjaannya, ia pun menyanggupi permintaan pimpinannya.

Esok harinya, ia memulai mengerjakan permintaan pimpinannya membuat sebuah rumah, ia mengerjakan tidak seperti yang biasa dilakukan ketika membuat rumah, ia mengerjakan dengan terburu-buru karena ingin segera selesai dan berhenti dari pekerjaannya. Akhirnya, ia pun menyelesaikan rumah tersebut dengan waktu relatif cepat dan segera menemui pimpinannya.

“Pak, saya sudah selesai mengerjakan rumah yang Bapak minta”, sahutnya. “Oh Bapak sudah menyelesaikan tugas dari saya dengan cepat”, jawab pimpinannya.

“Karena saya sudah menyelesaikan tugas dari Bapak, saya pamit dari perusahaan Bapak”, sahut pegawai tersebut.

“Baik kalau itu keinginan Bapak, saya izinkan Bapak untuk keluar dari perusahaan ini, namun karena saya pernah mengatakan kepada Bapak bahwa rumah yang Bapak bangun akan saya berikan kepada seseorang yang saya kagumi, kunci rumah itu untuk Bapak”, tegas pimpinannya sambil menepuk bahu pegawainya.

Cerita di atas merupakan cerita yang bersifat fiksi akan tetapi mengandung pesan moral yang dapat kita petik terkait dengan menghadirkan ketulusan dalam bahasa agama Islam keikhlasan ketika kita melakukan sebuah profesi. Apalagi jika melihat dinamika dalam bekerja, akan mengalami sebuah titik jenuh, namun hal itu bukan berarti kita harus mengurungkan semangat apalagi mengurangi kualitas dalam melakukan sebuah pekerjaan.

Bagi penulis, banyak pesan moral yang dapat dipetik dari cerita tersebut, sebagai guru yang selalu berinteraksi dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas, bahwa mendidik harus menghadirkan hati. Saya teringat dengan kisah yang dilakukan oleh Ibu Een Sukaesih (almh), dengan kondisi lumpuh, di rumahnya ia membimbing anak-anak untuk belajar kepadanya. Kondisi yang ia alami tidak menyurutkan semangat mendidik generasi bangsa. Atas perjuangannya, Prof. M. Surya (alm) memberikan gelar kepadanya sebagai Guru Kalbu.

Keikhlasan dalam mendidik adalah keniscayaan yang perlu ditanamkan oleh setiap pendidik. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa setiap manusia merugi kecuali mereka yang berilmu, semua orang yang berilmu merugi kecuali mereka yang beramal, dan semua orang yang beramal merugi kecuali mereka yang ikhlas.

Keikhlasan menjadi penggerak dalam meningkatkan profesionalisme sebagai pendidik di tengah keterbatasan dan tantangan ia jadikan sebagai bumbu dalam pengabdian. Tantangan para pejuang pendidikan beraneka ragam dari mulai gaji yang tidak sesuai dengan UMK, kondisi fisik, kondisi lokasi sekolah/madrasah seperti di daerah terpencil, dan lain sebagainya.

Menurut Muhibbin Syah (2017) berbuat ikhlas atau mengikhlaskan perbuatan, secara psikologis berarti melakukan perbuatan dengan benar dalam arti sesuai dengan prosedur yang lazim, logis, dan sesuai dengan tujuannya.

Berkaca dari cerita di atas, maka penting bagi kita untuk melakukan pekerjaan dengan tulus dan menghindari pekerjaan yang “asal-asalan” yang penting selesai. Begitupun sebagai guru, tidak sekadar masuk kelas agar gugur kewajiban samata, namun guru sebagai pendidik memiliki tugas yang sangat berat bukan sekadar menyampaikan ilmu yang barang tentu ketulusan sejatinya menjadi ruh dalam mengemban tugas. Dengan menghadirkan keikhlasan dalam pengabdian, insya Allah kita akan mendapatkan ketenangan.

Penulis, Praktisi Pendidikan tinggal di Kecamatan Cihampelas Kab. Bandung Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *