Pentingnya Sinergisitas Pendidikan Oleh: Ruhiman

Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi negara tetangga, Thailand selama beberapa hari. Ketika saya menyimak paparan dari Atase Bidang Pendidikan dan Budaya Kedutaan Besar RI di Bangkok, (16/9/2019). Sejenak saya tercenung, betapa ada sinergi yang positif di setiap lini kehidupan sehingga tercipta suasana tenang dan nyaman. Negara monarki berpenduduk lebih dari 68 juta jiwa ini menjadi salah satu negara tetangga kita yang sukses menerapkan nilai-nilai pendidikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan di Thailand telah menjadi sebuah kebutuhan yang secara kehidupan sosial mampu menghadirkan kenyamanan bagi masyarakatnya. Di jalan raya, misalnya, meski ada kemacetan, hampir tak terdengar bunyi klakson atau knalpot kendaraan yang bising. Keteraturan para penyeberang jalan, kedisiplinan para perokok tidak merokok di sembarang tempat, dan yang tak kalah penting adalah penegakan hukum yang konsisten. Itulah sekilas gambaran suasana yang saya rasakan. Kontras rasanya dengan kondisi sebagian besar wilayah di negara kita ini.

Pendidikan diyakini sebagai jawaban terhadap permasalahan peradaban sebuah bangsa bahkan dunia, agar menjadi lebih maju dan santun. Pendidikan dapat mewarnai setiap sisi kehidupan manusia di muka bumi ini. Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama: keluarga, pemerintah, serta masyarakat yanga harus dilakukan secara sinergi. Dengan begitu, diharapkan melalui pendidikan lahir kenyamanan serta nilai-nilai kebaikan di masyarakat.

Jika berjalan satu atau beberapa unsur, tentu akan berdampak pada tujuan pendidikan yang tidak maksimal yang idealnya dapat menciptakan kondisi yang diharapkan. Pendidikan di negeri kita menawarkan keutuhan bagi peserta didik menjadi insan yang mampu menjalankan hakikat hidupnya sebagai abdi Tuhan yang memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang maksimal, sejauh ini masih belum kita rasakan hasilnya. Tentu, ada permasalahan pada pendidikan kita.

Contoh kecil, saat seorang peserta didik kembali ke keluarga dan lingkungan sosialnya, ada suasana berbeda yang kontradiktif dengan pendidikan yang telah ia dapatkan saat masih berseragam di lingkungan sekolahnya. Seperti, penggunaan bahasa, sampah yang tak terkondisikan dengan baik, perilaku-perilaku negatif di sekeliling, dan yang lainnya. Kondisi ini lambat laun akan mengikis pola didikan mental yang tak mereka sadari. Inilah hal yang patut menjadi bahan kajian kita yang merindukan suasana nyaman di berbagai sisi kehidupan masyarakat.
Keluarga, lingkungan masyarakat, pemerintah, dan pihak sekolah harus sejalan menanamkan nilai-nilai luhur kehidupan yang dilandasi agama dan budaya dalam menghadapi dinamika kehidupan yang serba cepat kini. Sikap (karakter), sebagai modal dasar dalam menopang keberhasilan pengetahuan dan keterampilan adalah tanggung jawab semua komponen bangsa ini.

Pada praktiknya, kita meyakini bahwa sekolah/madrasah sebagai lembaga pendidikan yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan negeri ini –meskipun belum berjalan secara maksimal, telah berusaha melakukan kegiatan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Namun, melihat realita saat ini, tampaknya hasil belajar itu belum terimplementasikan dengan baik yang dapat kita amati melalui sikap mental (karakter). Jika bangsa lain mampu, mengapa kita tidak?

Lingkungan keluarga dan masyarakat juga menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan. Awal pendidikan bagi anak adalah keluarga, sebagai madrasah pertama saat pendidikan ditanamkan. Selain itu, lingkungan masyarakat juga berperan penting terkait dengan membentukan karakter siswa. Pemerintah, sangat perlu kiranya secara holistik melakukan pengkajian tentang formula yang tepat pada tatanan pendidikan di negara ini. Hal tersebut meliputi pendidik, kurikulum, lingkungan pendidikan, regulasi, serta yang lainnya.

Setiap kita adalah individu yang saling memengaruhi. Teladan yang baik adalah kebaikan. Kebaikan tidak akan pernah bersepaham dengan keburukan. Kebaikan dan keburukan selalu muncul dari hal-hal kecil yang terus tumbuh subur seiring dengan pemeliharaan kita terhadapnya; melalui ucapan, penampilan, dan perilaku yang mengaliri darah kehidupan lewat denyut pemikiran.

Perubahan zaman melalui perkembangan teknologi telah memengaruhi pola pikir manusia kini. Sadar atau tidak, setiap sisi kehidupan manusia merasakannya. Baik-buruk adalah implikasi yang menyertainya. Pendidikan menjadi tumpuan bagi kesiapan manusia dalam menghadapi kemajuan era 4.0 kini. Bagaimana pendidikan kita akan mampu mewarnai secara positif era ini dan menghadang sisi keburukannya, jawabannya adalah pentingnya sinergisitas semua komponen bangsa.

Penulis, Pendidik di MTsN 2 Bandung Barat dan Peserta Pelatihan KTI MGMP Bahasa Indonesia KKMTs 01 bekerjasama dengan IKIP Siliwangi Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *