Dilematik Pembelajaran Daring Oleh: Ruhiman

Dilematik Pembelajaran Daring
Oleh: Ruhiman
Pendidik di MTsN 2 Bandung Barat

Menyikapi fenomena tentang meluasnya penularan dan korban jiwa akibat Coronavirus Disease-2019 (Covid-19) pemerintah Indonesia menerapkan beberapa kebijakan agar penyebaran virus ini serta dampak negatifnya segera bisa ditanggulangi. Kebijakan yang dilakukan pemerintah salah satunya adalah karantina wilayah (lockdown) dan menjaga jarak antarmanusia (physical distancing/social distancing). Segala bentuk kegiatan warga negara yang bersifat kelompok untuk sementara waktu harus dihentikan. Meski berdampak secara luas pada beberapa sektor kehidupan sosial, namun langkah ini diharapkan menjadi solusi di tengah kekagetan warga dunia akan keganasan virus ini.

Virus yang oleh badan kesehatan dunia (WHO) telah ditetapkan sebagai pandemi global ini, pertama kali ditemukan pada bulan Desember 2019 di Wuhan, China, lalu menyebar ke pelbagai wilayah serta beberapa negara lainnya. Dalam waktu kurang dari tiga bulan virus ini telah merenggut ribuan nyawa di lebih dari 190 negara. Di Indonesia pad data (28/3) tercatat lebih dari 1.000 kasus dengan lebih dari 80 jiwa di antaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut tersebar di 24 provinsi. Kasus kematian masih lebih besar dibanding mereka yang telah dinyatakan sembuh secara medis.

Covid-19 telah menjadi musuh global yang perlu segera ditanggulangi agar korban tidak terus berjatuhan. Semua sektor kehidupan merasakan dampaknya, tak terkecuali sektor pendidikan yang dalam praktiknya terjadi interaksi manusia pada lingkungan tertentu secara berkelompok. Dalam menyikapi kebijakan terkait upaya meminimalisasi penyebaran virus ini, untuk beberapa waktu ke depan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan aturan tentang pembelajaran di rumah yang dilakukan non-tatap muka melalui pembelajaran dalam jaringan (e-learning). Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 yang intinya berisi aturan tentang bagaimana memprioritaskan kesehatan siswa, guru, dan seluruh warga sekolah. Peraturan ini pun diikuti oleh lembaga pendidikan yang berada di lingkungan Kementerian Agama.

Aturan tersebut pada dasarnya tidak menyalahi substansi pembelajaran karena telah diatur pada Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016. Bab I nomor 11, 12, dan 13 pada peraturan tersebut secara eksplisit menyatakan tentang prinsip pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas; serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Untuk menyukseskan kegiatan ini Kemendikbud melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan (Pemda), lembaga lain yang terkait, dan pihak swasta.

Beberapa usaha telah dilakukan oleh Kemendikbud dan Kemenag untuk memfasilitasi kegiatan belajar secara daring ini. Dikutip dari laman resmi www.kemdikbud.go.id Mendikbud menjelaskan, saat ini kerja sama penyelenggaraan pembelajaran secara daring dilakukan dengan berbagai pihak. Beberapa pihak yang fokus mengembangkan sistem pendidikan secara daring antara lain Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius.

Secara umum, e-learning ini dimaksudkan agar siswa tetap melakukan pembelajaran selama masa pencegahan penyebaran covid-19. Beragam proses pembelajaran dengan media ini memungkinkan siswa dengan guru tetap dapat melakukan komunikasi pada konteks pelajaran tertentu, melalui teks atau live streaming.

Mengutip pernyataan Rahadi Catur Yuwono di Majalah Sindoweekly No. 48 Tahun VII, 28 Januari-3 Februari 2019, hlm. 82 (www.ppm.manajemen.ac.id) bahwa e-learning punya manfaat yang cukup besar. Dari fleksibilitas waktu dan tempat, efisiensi biaya transportasi dan akomodasi, serta peningkatan retensi pengetahuan karena sifatnya yang bisa dipelajari berulang-ulang dan lain sebagainya.

Namun, hal tersebut tak lantas menjadikan metode pembelajaran dalam jaringan ini tidak mempunyai cela. Sebagai contoh, perasaan terisolasi pembelajar lantaran tidak adanya interaksi dengan sesama pembelajar bahkan dengan instruktur. Ditambah lagi proses pembelajaran e-learning sering sekali tidak memberikan ruang bagi pembelajar untuk menerapkan apa yang sudah dipelajarinya karena bersifat satu arah. Para pembelajar hanya diminta untuk menonton dan membaca materi yang diberikan sehingga para pembelajar merasa bosan dan berakibat pada kualitas pembelajaran dalam jaringan ini rendah.

Mengamati fenomena tersebut, Rahadi memberikan tiga tips untuk mengatasinya. Ketiga hal tersebut dikenal dengan AFT Model, yaitu action, feedback, dan trigger.

Pertama adalah action. Experiential e-learning mempunyai peran dan fungsi bagaimana materi yang diberikan tidak hanya sekedar melihat atau menyimak materi yang dipelajari, namun meneruskannya ke suatu perintah khusus. Para pembelajar diminta untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dalam hal ini materi e-learning didesain dengan mengembangkan suatu action, atau tindakan berdasarkan materi pembelajaran yang telah mereka terima. Action yang tepat untuk para siswa di tengah kasus sekarang ini tentunya yang dapat dilakukan secara perseorangan.

Kedua, feedback. Feedback atau umpan balik merupakan langkah awal dalam hal engagement atau keterlibatan dalam proses pembelajaran. Pada tahap action sebelumnya, para pembelajar diminta untuk melakukan sesuatu, setelah hal tersebut dilakukan, giliran feedback menjadi sangat penting terhadap kesuksesan pembelajaran selanjutnya.

Ketiga, trigger. Dalam metode pembelajaran daring, trigger biasanya berupa pesan yang diberikan otomatis oleh suatu aplikasi atau pun staf admin (learning support) atau bahkan tenaga pengajar dengan tujuan memberikan informasi mengenai apa saja yang telah mereka pelajari dan mengingatkan batas waktu pengumpulan atau catatan secara kualitatif dari guru tentang aktivitas yang telah dilakukan pembelajar.

Harus diakui bahwa kebijakan tentang pembelajaran daring ini belum begitu populer di masyarakat kita. Meskipun ada beberapa lembaga pendidikan yang telah menerapkan sistem ini, namun hal ini masih terbatas pada sekolah tertentu yang ketersediaan fasilitas penunjangnya (alat, ketenagaan, akses internet) memadai, dan pada jenjang pendidikan tinggi. Selama ini siswa kita telah terbiasa pergi ke sekolah/madrasah lalu melakukan pembelajaran di lingkungan yang sama dengan pola yang sudah ditetapkan, baik waktu, guru, maupun jenis pelajaran.

Pendidikan pada praktiknya dapat dilakukan dengan berbagai teknik, media, dan pelbagai sumber. Pembelajaran daring adalah sebuah upaya agar pembelajaran tetap dilaksanakan di tengah situasi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran secara reguler. Pada situasi belajar seperti ini, peran utama pendampingan dan pemantauan pembelajaran akan lebih dikendalikan oleh orang tua di rumah. Gawai, komputer, laptop, dan kuota menjadi modal utama yang harus dimiliki oleh setiap pembelajar selain biaya tambahan untuk menjalankannya. Hal ini perlu juga jadi bahan kajian bagi pemerintah, karena di wilayah tertentu, besar kemungkinan siswa maupun orang tua belum memiliki hal tersebut. Masalah lainnya, pemerataan akses internet yang belum begitu maksimal di wilayah negara kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *