Puasa, dari Ibadah Ritual ke Ibadah Sosial: Oleh Dadan Saepudin

Puasa, dari Ibadah Ritual ke Ibadah Sosial
Oleh Dadan Saepudin

Pengurus DPD PGM Indonesia KBB sedang membagikan masker kepada pengendara roda empat di Rajamandala, Cipatat, Bandung Barat,(25/4/2020). (Oom Komariah)
(Pengurus DPD PGM Indonesia KBB sedang membagikan masker kepada pengendara roda empat di Rajamandala, Cipatat, Bandung Barat,(25/4/2020). (Oom Komariah)

Selama satu bulan umat Islam ditempa dengan menjalankan ibadah puasa dari mulai terbit pajar sampai terbenam matahari. Menahan dari rasa lapar, haus, serta hal-hal yang akan membatalkan ibadah puasa. Selain itu, secara ruhaniyah, selama berpuasa kita pun belajar untuk menjaga anggota badan serta menahan dari perbuatan yang tercela, seperti berghibah, memfitnah, marah, dan berlaku tidak adil.

Ramadan menjadi madrasah Ilahiyah bagi setiap umat Islam, hal itu tertuang dalam QS:2:183, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Depag RI, 2012:34). Dari ayat tersebut, tersurat bahwa tujuan kewajiban ibadah puasa di bulan Ramadan yaitu menjadi pribadi yang bertakwa.

Melalui ibadah shaum banyak pelajaran yang dapat dipetik, kita belajar menahan hawa nafsu dari rasa haus, lapar, dan berhubungan suami istri di siang hari. Jika pada hari-hari sebelum Ramadan, ketika kita merasakan lapar, maka kita bisa makan saat itu juga, begitupun ketika kita merasakan haus. Namun, di bulan Ramadan kita menekan nafsu bahimiyah.

Pelajaran penting yang bisa dipetik kita diajarkan oleh Sang Khalik untuk peduli terhadap sesama seperti kepada kaum pakir, miskin, dan anak yatim piatu. Bagi mereka, pastinya rasa lapar dan haus menjadi teman dalam meniti kehidupannya. Melalui ibadah shaum individualistik (mementingkan diri sendiri) serta sifat kikir mulai dikikis.

Selain kepedulian yang bersifat materi, juga kita diajarkan untuk meningkatkan kepedulian sosial dengan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ketika ada saudara kita berbuat salah maka kewajiban kita adalah menasihatinya sehingga bisa diterima dengan baik olehnya.

Terkait dengan itu, negeri kita saat ini sedang dilanda musibah berupa wabah penyakit Covid-19, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi penyebaran virus tersebut. Di sisi lain, banyak komunitas dan masyarakat tergerak untuk membantu sesama seperti pembagian cairan disinfektan, pembagian sembako, pembagian masker, dan lain sebagainya.

Darurat Covid-19 memasuki bulan Ramadan, pemerintah telah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah termasuk di Provinsi Jawa Barat. Tradisi mudik di bulan Ramadan pun tidak akan seramai tahun lalu yang selalu menjadi bahan pemberitaan di media massa. Masyarakat harus menahan diri untuk tidak mudik ke kampung halaman, menahan rindu bertemu orang tua, saudara, teman ketika kecil, dan melihat kampung halaman.

Di tengah wabah Covid-19, tidak sedikit saudara kita yang terkena dampaknya, terutama di sektor ekonomi. Bulan Ramadan menjadi momentum penguatan untuk saling berbagi, silih asah, asih, dan asuh.

Ibadah shaum di bulan Ramadan merupakan perintah Allah SWT dan merupakan rukun Islam yang ke-4. Ibadah dalam rangka meningkatkan kesalehan ritual (Hablum Minallah). Manifestasi dari ibadah ritual harus berdampak pada kesalehan sosial (Hablum Minannas). Sehingga tercipta keselarasan dan keseimbangan antara kesalehan ritual dan sosial.

Terkait dengan itu, ada hal yang menarik ketika kita melihat seekor kupu-kupu, apa yang terlintas dalam benak kita? Pasti akan mengatakan bahwa kupu-kupu itu indah. Namun, sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, kita mengetahui bahwa kupu-kupu berasal dari ulat. Bagi sebagian orang, ulat bisa jadi merupakan hewan yang menjijikkan. Selanjutnya ulat menjadi kepompong selama kurang lebih sebulan bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang indah dengan beraneka warna.

Atas dasar itu, selama satu bulan kita ditempa pendidikan Ilahiyah semoga kita dapat memetik hikmah dan bermetamorfosis menjadi hamba yang bertakwa seperti seekor ulat yang bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Aamiin.

Penulis adalah Guru di MTs Mathla’ul Anwar Sukaguna Cihampelas Kab. Bandung Barat.
`

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *